الخميس، شوال ١٥، ١٤٢٦

Tentang Datang dan Hilang

Sama halnya dengan sebuah kedatangan,
Kehilangan-pun begitu mengesankan bagi kita.
Kecuali bagi orang yang tak pernah tahu
Tentang datang dan hilang.

Aku ingin menyemayamkan Ramadhan
Pada setiap nadi yang merajai tubuh ini.
Kesemuanya itu kulakukan
Agar aku selalu rindu Ramadhan.

Meskipun Ramadhan tlah berlalu,
Namun penghambaan kita kepada-Nya
Bukanlah seperti kayu
Yang sewaktu-waktu menjadi abu.

Ramadhan bukanlah tanaman
Yang jika tak disiram mengalami kematian.

Tapi lebih dari itu....
Ramadhan adalah Jantung
Yang ada dalam tubuh kita.
Jika jantung tak berdegup,
Maka kehidupanpun telah ditutup

Taqabbalallahu minna wa minkum
Shiyaamana wa shiyaamakum

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menang
Yang kan selalu tertantang
Ketika perintah da'wah datang
Sebelum kehidupan fana ini menghilang


15 Syawwal 1426 H
Setelah Pulang Kampung

الاثنين، رمضان ٠٧، ١٤٢٦

Pertanyaan Ringan Tentang Puasa

Surat dan ayat berapa yang memerintahkan puasa? Tentu banyak yang tahu jawabnya adalah surat al-Baqarah : 183. Murid SD-pun faham dengan lafal dan arti ayat tersebut, karena ayat itulah yang sering mereka dengar atau mereka baca ketika ramadhan menjelang. Akhirnya, kalimat paling ujung dari ayat tersebut -la'allakum tattaqun- adalah jawaban yang dijawab banyak murid jika ditanya oleh gurunya “untuk apa kalian puasa?”.


Pertanyaan itu begitu ringan, seringan pengucapannya. Namun, entah karena apa, diantara kita lupa menjelaskan bagaimana cara supaya puasa kita benar-benar panen rasa taqwa. Yang mereka -murid SD- tahu adalah puasa itu tidak makan dan minum selama setengah hari, dari subuh hingga maghrib.


Adalah wajar, jika sampai saat ini kita melakukan puasa dengan pemahaman yang sama dengan mereka -murid SD. Karena memang kita menerima informasi awal tentang puasa untuk menahan lapar dan dahaga. Kecuali bagi orang yang dengan penuh kesadaran banyak mencari informasi tambahan tentang kenapa untuk la'allakum tattaqun mesti puasa.


Rasulullah Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sebuah hadits “Berapa banyak diantara manusia yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan hasil dari puasanya kecuali lapar dan haus” (Riwayah Bukhori Muslim). Itu artinya, Rasulullah begitu memperhatikan begitu beratnya menjalankan puasa. Belum lagi keluhan -tepatnya peringatan- Beliau Sallallahu 'Alaihi Wasallam yang dikatakannya kepada para Shahabat Radhiyallahu 'Anhum setelah sukses dalam Perang Badr “Kita akan menghadapi perang yang lebih besar dari perang ini, itulah perang melawan hawa nafsu”.


Jika saja banyak orang yang tahu -dan mau tahu- bahwa puasa itu begitu dahsyat melebihi kedahsyatan perang Badr, maka mungkin ada rasa hormat untuk menjalankannya dengan menambah point bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi menahan hawa nafsu.


Dalam sebuah diskusi selepas shalat Tarawih beberapa malam lalu, banyak diantara mereka yang berkata bahwa berat juga rasanya -dizaman sekarang ini- menahan hawa nafsu, karena pemicu untuk munculnya hawa nafsu semakin banyak. Harga yang kian melonjak, wanita berpakaian ketat yang banyak berserak hingga tingkat kriminalitas yang kian marak, adalah contoh kecilnya.


Karena alasan itulah, banyak diantara kita menjalankan puasa dengan “apa adanya” sesuai dengan yang kita tahu bahwa puasa, ya tidak makan dan tidak minum. Orang juga banyak yang tahu, puasa dengan menjaga hawa nafsu hanya bisa dijalani oleh seorang ulama, kyai, ustadz atau orang yang tidak pernah keluar rumah.


Kesalahfahaman itu mestinya kita perbaiki, yaitu dengan berbicara kepada banyak orang bahwa puasa itu bukan sedekar menahan lapar dan haus. Tentu seluruh generasi harus mengerti akan hal ini, mulai dari anak kecil hingga kakek-nenek. Tentu dengan bahasa yang mereka fahami.


Jika demikian sudah bisa terlaksana, maka kebobrokan yang terjadi di bangsa ini tak akan terulang lagi. Barbarisme, Korupsi, Kolusi, Bodohisme dan Nepotisme (BKKBN) akan musnah dengan sendirinya karena hasil dari puasa yang benar, puasa yang menahan hawa nafsu. Karena puasa yang benar itu melahirkan sifat jujur, bijak, cerdas dan sabar. Sifat itulah yang masuk ke dalam kategori orang-orang yang bertaqwa.


Maka, mari kita bertanya dengan satu pertanyaan ringan saja : Apakah Kita sudah Berpuasa dengan Baik dan Benar?


Parangtritis, 5 Ramadhan 1426 H