السبت، ربيع الأول 07، 1426

Dialog Usia

"Hari demi hari berganti
Bertahun tak terasa tlah berlalu
Entah sampai kapan waktuku
Yang Alloh berikan seperti ini"

Nasyid lama itu memang cocok untukku kali ini. Beberapa detik lagi, jatah umurku akan segera berkurang. Walaupun nominal umur bertambah SATU.
Tak ada yang berarti menurutku dari hidup ini. Namun pengabdian membuatku dan seluruh manusia berarti dihadapan-Nya.
  • Jiwa : "Wahai umur, bisakah kau sesekali tidak bertambah ketika tanggal lahir berulang setiap ganti tahun? Aku ingin muda lagi. Aku ingin memperbanyak pengabdian-Nya. Jangan sampai aku tua tanpa guna. Bisakah kau membantuku wahai umur?"
  • Umur : "Bisa, tapi ada syaratnya."
  • Jiwa : "Apa itu?"
  • Umur : "Engkau mesti membuktikan bahwa engkau bisa menarik nikmat Alloh yang datang pada tahun yang lalu"
  • Jiwa terdiam seketika. Hatinya berkata "Menarik nikmat Alloh yang datang tahun lalu? Mana mungkin? Itu artinya aku mati. Ya, tanpa nikmat-Nya, mana mungkin aku hidup?"
  • Umur : "Hei jiwa, bagaimana tawaranku? Bisakah kau jalani syarat itu?"
  • Jiwa : "Tidak mungkin aku bisa menjalani syarat itu..."
  • Umur : "Nah, tidak mungkin kan? Kalau begitu, Kenapa engkau tidak coba untuk menjalani sisa hidupmu dengan kebaikan? Masih ada waktu..."
  • Jiwa : "Iya, itu akan kujalani. Tapi aku ingin umur yang panjang, supaya aku bisa lebih banyak beramal"
  • Umur : "Jalani saja hidupmu tanpa menjanjikan sesuatu kepada Alloh. Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang paling buruk dalam soal penepatan janji. Manusia sering kali lupa ketika diberi waktu lama hidup. Biarlah orang-orang kufur yang merasakan dahsyatnya kiamat nanti. Alloh akan mematikan seluruh orang soleh sebelum datangnya kiamat, agar yang merasakan matahari diatas kepala adalah hanya orang-orang bedosa kala kiamat datang"
  • Jiwa : "Berarti, kalau aku soleh, aku segera dimatikan-Nya?"
  • Umur : "Iya.."
  • Jiwa : "Kalau begitu aku ingin berdo'a.. Ya Alloh, matikanlah aku dalam keadaan beriman kepadamu.."