السبت، ربيع الأول 28، 1426

P e m b e r o n t a k ! ! !

Image hosted by Photobucket.com

  • Sabtu. 7 Mei. Subuh.

Sholat subuh yang kuimami pagi ini alhamdulillah diikuti 2 shoff makmum. Ini merupakan kesempatan emas untuk membangun agitasi. Kuberanjak menuju mimbar untuk menyajikan ilmu Alloh tentang syirik. "Walaupun kita orang yang rajin solat, baca qur'an dan bersedekah tapi tetap mempercayai kepada kekuatan selain Alloh, itu sudah dinamakan Asy Syirku BilLah (menduakan Alloh)....". Ayat demi ayat kusinggung untuk membenarkan persepsi mereka tentang acara labuhan yang akan digelar malam minggu ini. Alhamdulillah, ada respon positif dari beberapa warga untuk sepakat tidak datang pada acara labuhan itu.

Acara labuhan adalah acara yang digelar setiap akhir Rabi'ul Awal yang mempersembahkan sajian kepada Si Setan Nyi Roro Kidul. Sajiannya bukan harga yang murah, tapi cukup lumayan untuk menggelar pengajian akbar. Sapi Putih 1 (kisaran harga 4,5jt), Sapi Bule 1 (kisaran harga 6jt), Kambing Hitam Jantan 3 (kisaran harga 600ribu) dan entahlah apa lagi sajiannya.. banyak makan biasa. Itu belum termasuk panggung, tenda, lighting layaknya pentas musik, tapi bedanya diacara labuhan akan digelar wayangan semalem suntuk. Bukankah itu hal yang syirik? Adat yang tidak jelas hukumnya dan tidak dapat dijawab ketika aku bertanya "Pripun nggih pak, nek acara labuhan mbotten wonten (gimana ya pak kalo acara labuhan ditiadakan?)". Mereka hanya diam.

  • Tetap Sabtu. 7 Mei. Dhuha
Kutatap pantai depok yang sudah rapih tata panggung acara labuhan malam ini. Berbondong pedagang datang dari berbagai arah utara pantai. Beberapa menit kemudian. Rombongan warga luar Parangtritis mulai memadati tempat tersebut dengan motor, mobil, bus bahkan ada yang bersepeda. Kucoba dekati mereka untuk sekedar menyapa dan menanyakan maksud mereka ikut acara tersebut dengan bahasa jawa kromo inggil dan ramah.
Alhamdulillah, tugasku menyampaikan kebenaran -untuk sementara- telah gugur. Berbagai respon kudapat. Ada yang senyum. Ada yang langsung melotot dan berkata kasar. Ada yang menjauh. Bahkan, alhamdulillah, aku berhasil diludahi dan ditimpuk dengan pasir pantai dan batu kecil oleh beberapa anak kecil yang setahuku disuruh orangtuanya. Sri, salah satu murid privatku memarahi anak kecil yang melakukan itu "Hey, kowe iki ra sopan, iki ustadzku.. kuwalat kowe nggarapi ustadz (Hei, kamu ini ga sopan, ini ustadzku, dosa kamu ngerjain ustadzku)". Ya Alloh, berilah perlindungan bagi orang yang menegakkan hukum-Mu. Beberapa pengelola warung yang Pro denganku segera membela dan mengajak aku ke warung mereka. Luka dikakiku diobat mereka. Padahal aku sama sekali tidak merasa kalau terluka.
  • Masih Sabtu. 7 Mei. Ashar
Baru saja aku turun dari angkot, langsung tampak beberapa anak TPA yang demo mendesak TPA hari ini diliburkan. Mereka begitu antusias untuk tetap menyaksikan upacara sajian labuhan. "Kan masuk TV mas..!!" salah satu alasan mereka. Yah, namanya juga anak-anak, aku yakin sepenuhnya tindakan mereka adalah bukan atas keinginan pribadi, karena ruma warga sekitar juga sepi dan pintu banyak yang tertutup rapat untuk mengikuti acara itu. Demo anak-anak TPA menuntut libur akhirnya dimenangkan oleh mereka. Ya, TPA libur. Sungguh aku menyesal karena bisa kalah dialog dengan mereka yang masih kecil itu.
Segera kuberjalan cepat ke rumah Tokoh Agama Dukuh (disebut dengan Mbah Ro'is) untuk menindaklanjuti kekurangsetujuan beliau yang dilontarkan tadi Subuh. Tanpa basa-basi saya berkata dengan bahasa campuran "Nyuwun pangapunten nggih mba, kulo ajeng mohon donga pangestu panjenengan tentang acara labuhan yang kita bicarakan tadi subuh (Mohon maaf mbah, saya mau mohon doa restu mbah tentang acara labuhan...)". Sejenak beliau diam sambil menghujamkan lintingan tembakaunya ke asbak. "Begini Mas Ahmad... tadi saya dapet perintah dari Ibu Lurah untuk membaca do'a di acara itu. Ya, yang namanya perintah Ibu Lurah kan jarang-jarang, makanya saya terima". Hatiku beristighfar kecil. Rupanya Thogut telah megitu menancap dibeberapa (oknum) orang pilihan. Langkah lemasku tak mampu mengobati kekecewaanku yang berundak-undak. "Kini, kemana lagi engkau cari dukungan wahai pemberontak!" hati kecilku ngeledek.
  • Puncak Sabtu. 7 Mei. Maghrib
Masjid sepi. Hanya 1 shoff putra yang ada dan 3 orang puteri. Pengajian TPA dilibur setelah tadi sore demonstrasi ke kost. Pengajian remaja pun diliburkan secara sepihak. Semua mereka mengikuti acara Labuhan, begadang sampe jam3. Ya Alloh, tentunya ini ujian yang sangat kecil dibandingkan ujian yang dihadapi para pejuang Palestina, Wali-wali Alloh apalagi Nabi dan Rosul. Allohummanshurnii waj'alni minashoobiriin (Ya Alloh, Tolonglah hambamu ini dan jadikan aku kedalam orang yang sabar)
Pulang setelah isya. Aku menemukan kertas didepan rumah yang tulisannya besar "Hey kamu!! Pendatang, Jangan Betingkah Deh!! Tak Santet, Baru Minta Ampun Kamu, Biar Tau Rasa. Kalo Besok-besok Masih Ngajak Orang Ga Ikut Labuhan. Kita Ga Ragu-ragu Nyantet Kamu!! Dasar Pemberontak!!". Alhamdulillah, kertas ini begitu berharganya. Kertas ancaman yang membangun ketangguhan berjuang. Yang melejitkan potensi berfikir. Untuk tegaknya Din Islam. "Hey Nyi Roro Kidul, Awas Kamu Kan Lenyap Besok!!!"
  • Parangtritis, Sabtu Malam Yang Menggetirkan.

3 Ada Komentar?

At الاثنين, ربيع الآخر 01, 1426 9:48:00 ص, Blogger linda Bilang...

ikut prihatin bacanya
emang susah meninggalkan adat yg gak jelas hukumnya. apalagi kalo udah turun temurun dijalankan.

semoga tetap semangat menyebarkan & menanamkan kebaikan

 
At الاثنين, ربيع الآخر 01, 1426 4:13:00 م, Anonymous iman Bilang...

kalo kisah ini benar... aye bener2 salut dan mendukung usaha sampeyan... semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberi kemudahan ,.... amin

 
At الخميس, صفر 25, 1428 1:59:00 م, Anonymous غير معرف Bilang...

Very cool design! Useful information. Go on! film editing schools

 

إرسال تعليق

<< Home