الأحد، ربيع الآخر ٠٧، ١٤٢٦

Selamat Jalan Akhi...

Inilah sebabnya kenapa beberapa hari ini aku tak bermunculan di depan monitor. Sebab yang membuatku sesak jika tak kukeluarkan isinya. Sebab yang membuat mataku bertambah sembab. Sebab yang membuatku tambah yakin akan keuasaan Allah SWT yang Maha Berkehendak. Sebab yang membuatku belajar kembali mengenai arti hidup.

Apa yang anda rasakan ketika anda ditinggal oleh orang-orang tercinta? Berbagai gaya mencurahkan emosi tentunya anda lakoni, asalkan anda bisa dengan lega untuk hari-hari yang akan datang. Ya, aku telah kehilangan seorang yang sangat berarti sepanjang hidup di Jogja (7bulan). Beliau menempati berbagai posisi dalam ruang hidupku. Saudara. Orangtua. Sahabat. Guru. Teman bercanda. Teman diskusi. Selain istri yang kini juga sedang diberikan ujian sakit sejak kami menikah 6 bulan lalu.

Kamis lalu, aku dan Akh Handy bermaksud menjenguk istriku di sebuah RSI di Jogja. Beberapa lama sebelum aku berangkat, beliau mengirim sms kepadaku "Bang, afwan nih, saya ndak bisa nemenin antum ke RS, saya masih di Surabaya". Oya, aku lupa kalo beliau masih tugas da'wah disana. Akhirnya aku melaju tanpa kawan ngocol (walaupun suhu tubuhku sedang panas juga). Ngocolan-ngocolan kami yang biasa keluar dari mulut iseng, beberapa kali kami realisasikan, misalnya : "bagaimana cara mengusir wts dari parangtritis? beliau lantas jawab, liqo'-in dulu tuh pemilik hotel dan losmen". Nyata, beberapa hari sebelum tugasnya ke Surabaya, pendekatan beliau berhasil ditanggapi dengan serius. Pemilik hotel dan losmen liqo'. Yang hadir-pun 20 (dari 35 yang diundang). Alhamdulillah...

Jum'at lalu, dalam hatiku terpintas agar aku menghubungi beliau (Akh Handy), ada sesuatu yang mengganjal. Kuketik dengan cepat "aina anta akhi?", kukirim kenomer HPnya, tapi, Laporan : Gagal. Kukirim ulang dengan kalimat yang sama, Gagal lagi. Kutelpon segera HPnya memang tidak aktif. Dengan sigap kutelpon rumahnya. "Assalamu'alaikum.. Bu, Handy wonten? (Handy ada?)". Tiada jawaban, tapi aku hanya dengar tangisan. Setelah itu.. tut, tut, tut. Putus. What wrong?. Kondisiku tidak memungkinkan untuk kerumahnya, karena demamku agak tinggi. Aku mencoba untuk ber-husnuzhzhon kepada Allah. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Walaupun hati ini tetap diguyur rasa kejanggalan. Akhirnya istighfar menutup bayang-bayang prasangka itu. Sahabatku dari Jakarta datang, akh Ari (yang mau menggenapkan din-Nya dengan akhwat sukoharjo). Selepas sholat jum'at, tiada pilihan kecuali mohon dampingan Ari yang baru datang itu. "Anter abang yah ke RSI, tapi nanti kita mampir ke sohib yang baru pulang dari surabaya". He-eh, tanda setuju yang singkat. 3 jam kemudian. Sepulang dari RSI, kami langsung ke rumah akh handy. Kota jogja yang mulai macet karena dipadati memotoran (banyak motor) dan pepolusian (banyak polusi) bukan alasan untuk menunda jadwal silaturrahim kami dengan akh handy. 47 menit kemudian, kami tiba dirumahnya yang tampak ada acara. Kulihat sekeliling. Ada bendera putih!! (Berndera putih di jogja berarti ada orang yang meninggal). "Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun". Penasaran menggunung. Sejuta tanya mengitari bibir. Siapa yang dirindukan Allah, sehingga mati sebelum bumi ini hancur?. Sesosok bapak setengah baya menghampiri kami "Njenengan rencangipun mas handy? (kalian temennya handy?)" kami jawab "Inggih pak, kulo saking jakarta". Aku pun mengaku dari jakarta agar Ari juga tahu yang kami bicarakan. "Ooo... kesini langsung? diberitahu siapa?" bahasa Indonesia bapak itu kaku sekali. "Nggak ada yang kasih tahu, lho memang ada apa ya pak?" tanyaku tegang. "Jadi, kalian ini nggak tau kalo mas handy kemarin kecelakaan di Surabaya? Meninggal kemarin sore disana, lalu dibawa kesini tapi dini hari". Bukan main lemasnya kakiku, serasa tiada tempat menapak dari telapak kaki ini. Melayang. Akh Handy telah tiada, karena tugas mulia. Air mata beberapa titik pun tak bisa kuhindari kehadirannya. Alangkah beruntungnya beliau, mati dalam keadaan menjalankan seruan-Nya. Kesyahidannya sebading dengan kesyahidan pejuang-pejuang da'wah lain yang lama mendahului.

Aku membuka kembali SMS terakhir yang dikirim Kamis jam 14.49 "Wahai jiwa yang tenang, pulanglah... pulanglah menuju Tuhan yang memiliki Taman Keridhoan. Dan masuklah ke tempat-Ku menjadi hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku" Siapa yang mau termasuk kedalam golongan itu?? Aku (jelas) mau, Bang ahmad mau gak. Hehehe.. Lam Jihad selalu

Selamat jalan akh... Sesungguhnya antum orang yang dicintai-Nya, maka do'akanlah kami agar kami termasuk orang yang mencintai-Nya.

Untuk istriku : Ana habbaitik, Cepat sembuh donk!! Mas kangen berat...

0 Ada Komentar?

إرسال تعليق

<< Home