السبت، جمادى الأولى 18، 1426

Bilal dan Tebu


Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Rosul yang istimewa. Meskipun beliau r.a berasal dari golongan budak, namun beliau dijamin masuk Surga-Nya oleh Rosulullah. Bukan beliau saja yang masuk, bahkan sendalnya pun ikut masuk karena seringnya beliau menjaga wudhu'.

Lalu, apa hubungannya Bilal dengan Tebu? Apakah tebu merupakan tanaman kesukaan beliau. Tentu bukan itu jawaban yang tepat.

Tebu adalah tanaman yang bentuknya tak menarik. Orang pun tak akan memperlakukannya dengan sedemikian lembut karena kasarnya permukaan daun dan badan tebu. Padahal tebu adalah salah satu tanaman yang berjasa atas tubuh kita. Tebu bersedia berkorban, diinjak hingga ditumbuk untuk menjadi gula. Ketika menjadi gula pun ia masih tak protes untuk dicampur dan diaduk dengan air panas dan teh bahkan kopi yang gelap sekalipun.

Kembali ke Bilal. Bukankah Bilal r.a merupakan sahabat Rosul yang kurang menarik, kulitnya hitam, kerjanya pun kasar sebagai seorang budak. Namun kemuliaanya tak pernah dilupakan dalam sejarah, karena beliau r.a bergerak dengan niat melayani ummat.

Tebu pun begitu. Kemuliaannya adalah membuat manusia memiliki stok glukosa dalam tubuhnya untuk bertahan hidup. Tebu rela untuk diperlakukan secara kasar, bahkan diludahi ketika sedang tumbuh. Baginya, menjadi gula adalah satu-satunya kemuliaan yang tak dapat dia hindari.

Kurang menariknya kita bukan menjadi alasan untuk menjadi orang yang tidak bermanfaat. Segala skill yang kita miliki merupakan aset amaliyah yang suatu saat dibutuhkan orang lain. "Khoirunnaas, anfa'uhum linnaas (Manusia terbaik adalah manuia yang membawa manfaat bagi orang lain)"