الأربعاء، جمادى الأولى 22، 1426

Di Samping Pak Sopir

Image hosted by Photobucket.com
Mungkin bukan hanya saya yang aktivitas kesehariannya mengandalkan jasa bus umum, angkot dan sejenisnya. Apalagi pada kondisi hujan, akan lebih banyak yang menggunakan jasa mereka untuk mengantisipasi kehujanan ditengah perjalanan. Kesulitannya mungkin pada faktor waktu, ketika kita beraktivitas dengan menggunakan bus umum, waktu akan banyak tersita hanya karena harus menunggu bus datang dan kemacetan. Tak terkecuali bagi Jogja sebagai tempat berkumpulnya berbagai suku untuk menimba ilmu, kemacetan pada jam-jam tertentu harus kita hadapi dengan sabar.
Terlepas dari masalah kemacetan, saya akan mengajak anda ke dalam bus.
Tentunya setiap orang juga sering memilih tempat ketika masuk bus. Ada yang selalu ingin duduk di depan, tengah, belakang. Duduk dengan sesama jenis, sesama umur, lain jenis dan lain umur juga menjadi perhatian khusus bagi kita. Apalagi dengan semakin banyaknya kejahatan dalam bus dengan berbagai modus di kota-kota besar, tentu menambah kehati-hatian kita pribadi dalam hal ini.
Sejak SMP hingga kini, kursi paling depan, disamping pak sopir adalah tempat favorit saya. Dijenis angkutan umum apapun, ternyata memang lebih nyaman duduk pada posisi tersebut. Bus umum, mikrolet, angkot, travel ataupun taksi. Yang belum pernah saya rasakan adalah duduk disamping pak Masinis dan Pilot (hehe) karena itu adalah ruang terbatas.
Pernah saya membahas tentang tema "posisi duduk pada angkutan umum" dengan penjaga sekolah pada saat saya masih duduk di bangku SMU. Namanya Pak Syamsudin, biasa dipanggil dengan sebutan Pak Udin. Pak Udin yang pernah jadi supir mengatakan "Memang duduk didepan lebih aman, bisa ngobrol sama supir, apalagi ente, bisa dakwahin tuh supir biar... tapi enggak enaknya kalo lagi kecelakaan, orang yang paling pertama luka ya yang duduk disamping supir itu..". Saya hanya bisa manggut-manggut mendengar perkataan Pak Udin yang faham dengan bidang ke-supir-an.
Ada kesimpulan menarik dari dialog yang terjadi beberapa tahun yang lalu itu. Pertama, duduk di samping pak supir memudahkan kita untuk da'wah fardiyah. Kedua, mereka akan merasa terhormat dan menghormati hak kita ketika kita ajak komunikasi. Contoh menghormati hak kita adalah menyupirnya terkontrol atau tidak ugal-ugalan. Ketiga, kita akan mudah diingat. Bukan karena ingin jadi orang terkenal, tapi lebih dari itu. Jika kita punya misi tertentu, maka insya Allah, dukungan mereka akan cenderung diperuntukkan bagi kita yang sering ngobrol dengan mereka. Charter bus-pun bisa lebih miring harganya, tapi mungkin tidak pernah sampai jatuh harga. Keempat, pemandangan didepan jalan bisa kita nikmati dengan bebas. Kemacetan yang kita ketahui akan lebih membuat kita bisa menghitung waktu tiba di rumah. Kelucuan-kelucuan spontan yang terjadi ditengah jalan mengundang kita dan supir serta penumpang lain yang melihatnya ikut tertawa. Kelima, lebih aman dari gangguan kriminal, karena pelaku kriminal dalam bus umum lebih sering memangsa bangku-bangku belakang.
Ketidakenakan duduk disamping pak Sopir mungkin sedikit tapi cukup fatal. Pertama, kebanyakan supir mewarnai aktivitas menyupir sambil merokok. Asap rokok yang sangat mengganggu itu akan membuat kita sering merasa tergganggu. Lebih bagus lagi jika kita bisa menyinggung keberadaan asap rokok pak sopir secara berani dan halus. Yakin deh, pak supir akan mematikan rokoknya untuk sementara. Kedua, secara logika, memang kitalah yang akan menjadi korban pertama ketika bus mengalami kecelakaan. Tapi untuk yang satu ini tak perlu risau, karena kematian ketika dalam aktivitas mulia termasuk ke dalam golongan mati syahid.
Ditulis diatas angkot Bantul-Pantai Depok, Selasa (26/6/05) Sore.