الجمعة، جمادى الأولى 03، 1426

Itu Istriku Lho...

Image hosted by Photobucket.com
Mungkin saja kejadian ini bukan hanya aku yang mengalami, tapi anda juga (terkhusus) pengantin baru... Kejadian ini kutuliskan sebagai kenang-kenangan kami dan "ilmu" bagi calon pengantin (soalnya, bulan-bulan ini banyak undangan nikahan yang terpampang diblog IMB)

Sabtu, 27 November 2004. Akad nikah kami dihadiri Orangtua dan saudara-saudara kami dirumah (waktu itu masih) calon Istriku di Sukoharjo..

Ahad, 28 November 2004. Kami kembali ke Jogja. Orangtua dan saudara-saudara kami (dari Sukoharjo dan Jakarta) ikut mengantar ke rumah dinas yang kami tempati. Keluarga sukoharjo langsung pulang, sedangkan keluarga(ku) Jakarta bermalam untuk keesokan harinya menikmati pemandangan pantai dan makan ikan bakar.

Pekan pertama Januari 2005. TPA dekat rumah kami mengadakan outbond. Ternyata outbond baru diadakan pertama kali di Desa Parangtritis. Sebagian ustadz TPA desa Parangtritis menjulukiku dengan sebutan "Bapak Outbond", gelar yang lucu. Kembali ke outbond TPA kami. Peserta outbond itu 80 anak. Jumlah yang fantastis (menurut banyak orang) untuk sekup Dukuh/Dusun. Dalam tanggal yang sama, beberapa mahasiswa/i yang ingin mengadakan rapat LDK (Lembaga Dakwah Kampus) di Masjid pantai (waktu itu masjid belum sempurna pembangunannya). Aku menghampiri mereka, bertanya tentang keperluan mereka untuk menggunakan Masjid pantai. Kami sepakat mengatur waktu. Outbond diakhiri jam 9.30. Kami keluar. Mahasiswa UNYIL masuk. Aku (dan istri) belum (biasa) jalan bersama, masih malu-mau kali ya hehe... Sehingga aku disini (dipintu masjid) dan dia disana (dilapangan parkir). Aku berpapasan dengan ikhwan, ta'aruf dan berbincang sekedarnya.

Ikhwan1 : "Antum asli sini?"
Aku : "Bukan, aku asli jakarta, tapi aku pengen tinggal didesa, udah cita-cita sih dari dulu"
Ikhwan2 :" Ooo, itu anak-anak TPA anak sini semua"
Aku : "Oiya, itu anak Dusun Bungkus doang"
Ikhwan1 : "Banyak ya.. antum koq bisa ngajak mereka having fun, apa resepnya"
Aku : "Ah... ga da yang istimewa koq, ga da resep apa-apa, cuma ngumpulin anak-anak kan udah kerjaan dari dulu. Bedanya, klo dulu ngumpulin mahasiswa/massa ngajak demo"
Ikhwan1 : "Hmm... antum kenal itu (sambil menunjuk ke arah istriku), adik antum ya?"
Belum sempat kujawab, istri sudah mengajak pulang "Mas, ayo buruan.."
Aku pamitan dan berkata kepada kedia ikhwan itu "Kalau nanti siang masjid ini ramai, Antum boleh ke masjid dusun kami. Kami tunggu deh..".

Sementara itu selagi aku bicara dengan ikhwan, istriku juga bicara dengan mahasiswi. (Menurut laporannya) kisaran pembicaraan tidak jauh dari apa yang dibicarakan ikhwan dgnku. Bahkan sempat juga ada yang tanya tentang aku "Mba, itu siapa yang pake kaos KAMMI?". Istriku langsung jawab "Oh. itu suami saya..". Kontan muka akhwat yang bertanya itu memerah (baca : malu). "Koq ga kelihatan suami-sitri yah?" kata akhwat yang lain. Istriku jawab polos "Kami baru 1,5 bulan..". Ooo...

Mereka akhirnya mampir ke masjid kami, kebetulan aku sedang dimasjid menata buku sendiri, istriku dirumah. Ikhwan1 (yang bertanya tentang : siapa itu...?) langsung mendekatiku.

Ikhwan1 : Sendirian aja mas?.
Aku : Iya, gimana rapatnya dah selesai belum? Kalo belum bisa dilanjutin disini.
Ikhwan1 : Iya ini mau izin ngelanjutin disini, mungkin sampai ashar.
Aku : Tafadhdhol, aku seneng banget deh klo masjid ini dipake..
Ikhwan1 : Adik antum kuliah dimana?
Aku : Emang antum tau darimana kalo itu adikku? (sambil senyum)
Ikhwan1 : Ya.. merhatiin aja, Emang siapa kalo bukan adik mas?
Aku : Itu istriku lho...
Ikhwan1 : Beneran nih?? (kaget) Aku kira mas belom nikah, gak kelihatan sih..."

Muka Ikhwan1 yang putih memerah ketika kujawab tentang sosok yang ditanyanya itu, yang ternyata dia istriku...

Hal in masih terjadi hingga saat ini terutama jika kami naik bus dan kebetulan tidak ada kursi kosong dalam satu baris. Entah mengapa orang merasa tertarik melihat istriku, karena ramah atau karena ..... Sebaliknya, aku juga masih dikira Bujang kalau sedang jalan sendiri dan hal itu membuatku harus membiasakan diri berkata "saya asli jakarta, tapi istri saya asli solo..". Siapapun yang bertanya begitu akan lebih mengerti bagaimana seharusnya ia bersikapkepadaku.