الأربعاء، جمادى الأولى ٠٨، ١٤٢٦

Jutaan Do'a Untuk Antum Ustadz

Ingatkah Ustadz denganku?
Yang pernah mendengar taujihmu yang menyejukkan hati.
Antum mengayunkan siroh dengan lancarnya tentang

tahapan dakwahnya Rosululloh. Ketika itu, tekadku

bulat mlebihi bulatnya bola, untuk merengkuh sepenuh

hati atas tugas suci ini.

Ingatkah Ustadz denganku?
Yang pernah melihat betapa senyum selalu memoles wajah
ketika bercerita tentang kejayaan Islam. Aku juga
pernah melihat betapa sedih selalu menghujani raut
mukamu ketika berkisah tentang kemunduran Islam.
Bahkan, marahmu antum yang bukan main ketika Yahudi
menginjak-injak tanah Palestina dengan orasi-orasi
antum dan dibalik kemarahan itu antum telah
mendidihkan pelupuk mata kami untuk Palestina.

Ingatkah Ustadz denganku?
Yang pernah bertamu kerumah antum yang sederhana.
Kulihat antum sedang memegang kitab tebal yang belum
di Indonesiakan. Namun, dibalik kesibukan antum,
sungguh pelayanan terhadap kami tak pernah diabaikan,
sehingga antum lebih memilih menjamu tamu sambil
mengedit. Antum luar biasa cerdasnya... Juga luar
biasa dalam menjalani menghormati sesama muslim.

Ingatkah Ustadz denganku?
Yang pernah mendengar antum bernasyid dengan
sederhana. Kala PK mengadakan Munas I di Hotel Bumi
Wiyata tahun 2000 silam. Ribuan pasang telinga
mendengar, ribuan pasang mata memandang, ribuan mulut
mengikuti irama dan menyimpulkan senyum buat antum,
ribuan jemari tangan mengepal dan ribuan pasang kaki
kami ikut menghentakkan semangat seiring ugh.. ugh..
antum.

Ingatkah Ustadz denganku?
Yang pernah mendengar khutbah nikah antum dalam
pernikahan kami syawal lalu. Nasihat antum untuk para
pengantin akan selalu kami jaga.

Aku tahu jawaban atas pertanyaan "ingatkah ustadz
denganku?". Antum pasti akan menjawab "Antum
saudaraku.." dan akan selalu berkata demikian terhadap
siapapun.

Ustadz, rupanya Allah begitu merindukan antum,
sehingga tak sabar mengutus malaikat maut untuk
menarik ruh-mu dengan hati-hati.

"Ketika Rosululloh wafat,Umar bin Khottob mengusungkan
pedangnya dan mengancam kepada siapa saja yang
mengakui wafatnya Rosululloh. Hal itu dilakukannya
karena kecintaannya yang luar biasa kepada Rosul,
sebagai satu-satunya murobbi..." Antum pernah tuturkan
ini ketika aku menghadiri kajian tazkiyatun nafs bulan
ramadhan 2002.

Mungkin, bukan aku yang merasakan kesedihan mendalam
atas kepergian antum Ustadz. Ribuan, bahkan Jutaan
jiwa merasa lemas seketika dengan berita ini.

Dan... Jutaan do'a untuk antum ustadz. Do'a yang
pastinya sama bunyinya "Innalillahi wa inna ilahi
rooji'un, semoga Alloh menempatkan ustadz dalam tempat
terbaik"
Image hosted by Photobucket.com
Dan... bagi kita akhi/ukhti ingatlah bahwa kehilangan
seorang ulama adalah jalan untuk kita berjuang lebih
baik dan mempertahankan ajaran-ajaran Rosululloh SAW.

Majulah sahabat mulia
Berpisah bukan akhir segalanya
Lepas jiwa terbang mengangkasa
Cita kita tetap satu jua
(Nasyid Izzis kesukaan Ustadz Rahmat Abdullah Allohu
Yarham)

Diketik setelah mendapat sms.
di Parangtritis (Jauh dari Rumah Ustadz)
Bang Ahmad