الاثنين، ربيع الآخر ٢٩، ١٤٢٦

Kenangan Haji 2001

Musim haji 2001 silam, aku satu kelompok dengan seorang Bapak yang mirip chinese -padahal bukan-, hanya berkulit putih, matanya agak sipit. Pastinya Pak Hady adalah orang Palembang. Beliau juga dosen di IAIN Jakarta, hanya saja, aku tak mengenalnya.

Suatu siang, kami bermaksud kepasar. Kami naik taksi. Karena tampang pak Hady yang mirip chinese-lah, si supir bertanya-tanya dahulu sebelum berangkat. Aku yang duduk dibelakang tidak ditanyanya. Yang perlu anda tahu, harga taxi untuk muslim beda dengan harga taxi untuk kafir atau mu'allaf.

Supir : Anta muslim? (Kamu muslim)
Pak Hady : Na'am, ana Muslim (Ya, saya Muslim)
Supir : Kam arkaanul iman? (Berapa rukun Iman?)

Lalu Pak Hady menoleh ke arahku yang tertawa ketika mendengar pertanyaan Supir -untuk mengetes kemusliman seseorang- yang begitu mudah. Pak Hady bilang ke aku dengan bahasa Indonesia yang tentunya sisupir tidak mengerti "Waduh, nih supir ngasih soal gampang banget sih, ga da soal yang lebih susah apa?". Pak Hady kemudian menjawab pertanyaan asal-asalan.

Pak Hady : Arkanul Iman Khomsatun (Rukun Iman ada 5)
Supir : (mengekspresikan muka cemberut karena jawaban Pak Hady salah)

Terjadilah dialog tentang rukun Iman dari satu sampai 5. Tapi, pak Hady menjawab dengan lancar dan benar, 6 Rukun Iman dijawabnya. Supir keheranan karena tadi Pak Hady menjawab 5, tapi sekarang menjawab 6. Supir mengulangi pertanyaan pertama.

Supir : Hal anta Muslim? (Apakah anda Muslim?)

Karena setengah jam berlalu dengan dialog tanpa menyalakan mobil, Pak Hady agak kesal dan sedikit marah.

Pak Hady : Shummum, bukmun, 'umyun (Kamu buta? Kamu tuli? Kamu bodoh?)

Supir langsung bermuka merah karena dimarahi dengan ayat Alqur'an, dan langsung melajukan mobilnya sambil menutup mulutnya.