السبت، ربيع الآخر 27، 1426

Memulai Tradisi Membaca

Image hosted by Photobucket.com
Karakter dan watak seseorang konon bisa dibentuk oleh apa yang ia baca. Tak heran kalau dosen saya pernah mengatakan bahwa “Untuk mengetahui jatidiri seseorang mudah saja, kamu masuk saja ke kamarnya atau ruang kerjanya, ada berapa banyak buku yang ada dalam lemarinya, dan buku apa saja yang dibacanya?”. Minat seseorang kadang dapat direfleksikan melalui bacannya.
Aktivitas membaca bagi sebagian besar masyarakat kita memang belum membudaya. Beda jauh dengan masyarakat barat. Bahkan ada anekdot yang mengatakan “Karena telah membudayanya membaca, seorang penjahat pun menyempatkan diri untuk membaca”. Coba kita perhatikan turis yang ada disekitar kita (Jogja atau daerah wisata lain), paling tidak, dia membaca novel yang tebalnya cukup lumayan, padahal kalau orang kita (Indonesia, kebanyakan) melihat novel, buku yang tebal sudah emoh (tidak mau) untuk menyentuhnya. Alasannya ringan, cari buku yang enteng-enteng saja, biar mudah dimengerti.
Membaca buku bukan sekedar aktivitas baca “biasa”. Dari baca, kita bisa banayk berbuat, berfikir dan mengemukakan pendapat secara sistematis. Dari membaca juga muncul sifat yang kemudian menjadi kebiasaan dan salah satu dari jati diri kita. Dalam tulisan lain, saya singgung tentang hubungan membaca dengan Surat Al-‘Alaq ayat 1 – 5.
Seorang Abdulloh Yusuf Ali (cendikiawan muslim asal Eropa) pun mengatakan “Allah teach us now knowledge at every moment. Individuals learn more day by day; nations and humanity at large learn fresh knowledge at every strage. This is even more noticeable and important in the spiritual world”.
Setiap kita tentunya menghindar dari kebodohan, sekalipun orang desa atau pedalaman. Paling tidak, hal itu bisa dilihat dari perasaan “iri” terhadap orang-orang yang pintar dan akhirnya berharap jika ia (orang pintar itu) dapat menjadi teman dekatnya. Sayangnya, hal ini acapkali terabaikan oleh ketidaktahuan, ketidakmauan dan ketidakmampuan untk membangun tradisi membaca sebagai salah satu tradisi yang penting untuk dilestarikan (terlebih dahulu) dalam keluarga sebagai lingkungan terkecil.
Minat baca memang tidak dapat tumbuh begitu saja, tetapi harus diciptakan, direkayasa, direncanakan dan dikenalkan sejak dini. Dengan kata lain, terbangunnya curiosity dari seorang anak atau remaja terhadap sesuatu yang baru tidaklah dapat diciptakan atau dibangun secara instant.Media televisi yang makin memberikan tayangan “gila-gilaan” membuat anak lebih memilih menonton dibanding membaca. Maka ketika anak atau keponakan kita lebih memilih menonton, jangan biarkan kita tinggalkan tanpa pendamping sewaktu menonton. Tentunya, alas an yang paling logis dari pencegahan tersebut adalah, karena tontonanya akan menjadi salah satu rujukan dalam sifatnya. carilah buku-buku islami yang edukatif dan rekreatif yang kini banyak bermunculan. Bagi anda para orangtua, berilah contoh pada anak-anak kita denagn ikut membaca pada saat mereka membaca. Kemudian, jika pertanyaan datang darinya, wajib bagi kita untuk memberikan jawaban yang benar dengan bahasa yang dia mengerti.
Parangtritis, Awal Juni 2005

1 Ada Komentar?

At السبت, صفر 13, 1428 11:54:00 ص, Anonymous غير معرف Bilang...

I have been looking for sites like this for a long time. Thank you! »

 

إرسال تعليق

<< Home