الاثنين، جمادى الأولى ١٣، ١٤٢٦

Murid-murid Kesayangan

Kita tentu memiliki kesan sendiri sebagai guru (privat), karena kita dapat mengenal dunia anak dengan bebas melalui cerita-cerita yang (biasanya) mengalir begitu saja ketika murid malas belajar. Oh iya, itu salah satu tipsku, kalau pada awal-awalnya murid malas buka buku, maka ajaklah ngobrol secara santai tentang dunianya sekitar setengah jam, setelah selesai diajak ngobrol barulah memulai belajar, insya Allah rasa malas belajarnya sudah lenyap.

Di Parangtritis, aku mengajar TPA di 3 Dukuh, setiap dukuh memiliki santri TPA yang (lumayan) banyak. Paling tidak, 200 anak harus kulayani selama sepekan penuh pada jam-jam sore setelah kerja sampingan di Depag, karena kerja pokokku adalah Ngajar Ngaji. Selama 7 bulan disini, orangtua memperhatikan perkembangan anak yang ikut TPA, variatif, ada yang tambah pinter, tapi ada juga yang kemampuannya belum meningkat.

Tiga bulan ini, beberapa orangtua santri mengajukan permintaan mengajar secara privat. Tentu aku lebih senang jika seperti itu. Pelajarannya bebas, waktunya setelah TPA seminggu penuh. Orangtua murid pun memaklumi jika ternyata aku tidak datang mengajar karena harus memenuhi undangan di lain Desa. Setelah ujian, kepala sekolah berkata kepada Orantua murid (kebetulan aku tidak hadir dan kata-kata ini kudapat dari Bpk. Kost) "Mbok ya sopo sing anake elik bijine, minta dimulang mas ahmad, privat, ora wedi bayarannya munggah... kuwi wonge ora mentingake dit, sing penting anak arep sinau, maju..".

Itu bisa dibilang promosi bagus. Aku memberanikan diri menerima order besar privat awal tahun pelajaran ini, mulai bulan juli 2005. Bahkan anaknya. Sampai-sampai aku berkata kepada istri "Dek, gimana kalo kamu yang ngurus TPA, aku standby disini nunggu anak-anak privat". Tentu istriku manggut-manggut saja, seperti biasa. Mudah-mudahan keputusan itu cukup bijak.

Dari ke10 anak yang ikut privat, aku memiliki 10 murid kesayangan, karena aku tidak pernah tidak sayang dengan murid.. hehe. Mereka ialah :
  1. Ummi Nurlaili Ma'unah. Umurnya baru 11 tahun, sekolah di kelas 5 SD. Dia adalah anak dari bapak kamsudi (bpk Kost) yang kakaknya diluar rumah semua satu di Mesir, satu di Gunungkidul. Tidak terlalu sulit untuk menaklukkannya.
  2. Adi (Aku lupa nama lengkapnya). Umurnya 12 tahun. Saat ini dia telah lulus SD dengan peringkat yang (alhamdulillah) naik. Dia adalah sosok yang ditakuti teman-teman SD. Bisa disebut Preman, kata temannya. Perawakannya yang besar membuat banyak orang mengira kalau dia sudah SMP/SMA. Rokok, kebut-kebutan, playboy, ngintip adalah kebiasaan lama yang alhamdulillah sudah ditinggalkan. Sekarang dia sedang konsen untuk belajar dan mengaji, walaupun sehari-harinya masih menjaga parkir. Sudah 1 bulan ini, dia ikut mengajar TPA. Orangtuanya pun senang dengan perkembangan tersebut.
  3. Sri Hartatiningsih, kelas 1 ini (dulu) sulit sekali diajak belajar. Sehingga orangtuanya menyuruhku untuk memarahinya jika malas belajar. Namun dengan pendekatan yang teliti, Sri kini sudah bisa meraih nilai 10 dalam Matematika dan lancar membaca. Sri juga sering memarahi orang yang memusuhiku (Wah.. calon bodyguard nih hehe)
  4. Dwi Kusumanegara. Bukan main sulitnya mengajak anak kelas 5 ini serius belajar. Ada-ada saja alasannya untuk tidak belajar. Dari tiga bulan yang tersedia, dia baru "sadar" beberapa minggu ini. Saat ini dia sedang duka dengan Matematika, pelajaran yang dulu sangat tidak disuka. Tentunya perlu banyak waktu lagi untuk bisa menyuruhnya mengaji, sholat, dan berakhlak, karena teman-temannya adalah remaja SMP-SMA yang masih belum tersentuh untuk belajar.
  5. Fajri. Si Imut ini kelas 2. Suaranya juga khas, seperti donald bebek (kali ya??). Tapi Antum pasti kalah dengan dia. Dia suka IPA dan Matematika. Semester ini dia (alhamdulillah) rangking 1, padahal dulu rangking 14 (hiks) kata orangtuanya. Beberapa minggu ini, dia sedang senang nonton VCD Harun Yahya yang ilmiyah itu. Selain itu, Dia sudah lancar baca Al-Qur'an (dengan tajwid yang sempurna) disaat teman-temannya masih di IQRO' Jilid 3 dan 4. Yang sulit adalah, jika sedang ngambek.. Untuk hal yang satu itu, memerlukan waktu 45 menit untuk membuat gigi gingsulnya nongol.
  6. Cahyo. Pemain bola favorit se-Kecamatan Kretek ini memang manis dan cerdas. Namun waktunya banyak tersita untuk latihan bola, sehingga untuk belajar, orangtuanya menyerahkan hal tersebut kepadaku. Saat ini dia sedang menanti masa tes masuk SMP favorit.
  7. Eka Puspita Sari. Anak Pertama penjual jamu gendong di Parangtritis ini sebetulnya cerdas, namun kondisi lingkungan sekitar yang mempengaruhinya untuk cinta dengan melalaikan waktu. Padahal, kalau capeknya datang... orangtuanya yang pusing karena Eka akan sakit ketika capek. Saat ini dia naik kelas IV
  8. Aftri Plantianti. menanti masuk SMU N 1 Sewon (SMA Favorit)
  9. Ika Widiyasari. dalam penantian pengumuman di SMK N 1 Bantul (SMK Favorit)
  10. Witriu Indriyati. menanti masuk SMU N 1 Kretek (SMA Favorit se-Kecamatan)
Tentu ada hal yang menarik ketika kita memberanikan diri untuk mem-privat seseorang, yakni mempengaruhi. Jika guru privatnya baik, tentu akan memberikan pengaruh baik kepada anak didik dan keluarganya. Sebaliknya, jika guru privatnya tidak baik, tentu kita tahu kefatalannya. Makanya, pilih-pilih guru (hehe.. promosi nih..)

Ditulis setelah mendapat suguhan Nasi Kuning dari orangtua murid yang Ulangtahun.

0 Ada Komentar?

إرسال تعليق

<< Home