الأحد، جمادى الأولى 12، 1426

Proyek Penciptaan "Ibu"


Ketika itu, Sang Pencipta telah bekerja enam hari lamanya tentang proyek kehidupan manusia. Kini giliran diciptakan para ibu. Satu Malaikat menghampiri-Nya dan berkata lembut: "Robb, banyak nian waktu yg Kamu habiskan untuk menciptakan ibu ini?"

Dan Dia menjawab pelan: "Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?

  • Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik.
  • Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat lelah
  • Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak- anaknya
  • Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.
  • Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
  • Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah
  • Enam pasang tangan!! --- Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya "Enam pasang tangan....? ck ck ck". Sang Pensipta berkata "Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Aku, melainkan tangan yang melayani sana sini , mengatur segalanya menjadi lebih baik...."
  • Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu."Bagaimana modelnya?" Malaikat semakin heran. Sang Pencipta mengangguk-angguk. "Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: "Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?", padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya. "Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: "Ibu mengerti dan Ibu sayang padamu". Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.
  • Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
  • Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
  • Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi....

Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan. "Terlalu lunak", kata Malaikat memberi komentar. "Tapi kuat", kata-Nya bersemangat. "Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita".
"Apakah ia dapat berpikir?" tanya malaikat lagi. "Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi", kata Sang Pencipta.

Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. "Eh, ada kebocoran disini". "Itu bukan kebocoran", kata-Nya. "Itu adalah air mata.... air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata....,airmata...."

"Alangkah bodohnya manusia yang tidak menyayangi Ibu yang memiliki kasih sayang yang melebihi air matanya ini " bisik Malaikat kepada Sang Pencipta setelah selesai mengerjakan proyek "Ibu"

Kangenku pada Ibu [dan Bapak] diJakarta ---> Asli..
Kangenku pada Ibu [dan Bapak] di Solo ---> Mertua
Parangtritis di pagi yang hujan.