الثلاثاء، جمادى الأولى ٢٨، ١٤٢٦

Dua Utas Tali

Prolog : Bentukku memang panjang, tapi saudara-saudaraku ada yang lebih panjang lagi, juga lebih pendek dariku. Badan, tangan, mata, kaki, kepala, semua menjadi satu. Selain saudara, tidak ada yang tahu dimana kepala dan dimana kaki, sehingga seringkali aku terbolak-balik. Rambutku pun akhirnya tak pernah rapih karena kepalaku lebih sering ditempatkan di bawah. Aku hanya mampu menjalani tugas sesuai dengan siapa yang menjadi tuanku. Kalau dia orang baik, malah aku digunakan untuk kebaikan. Untungnya aku dibeli oleh orang baik. Tapi kasihan saudaraku yang dibeli oleh orang jahat. Dia sering dilibatkan dalam kegiatan kejahatan mereka.

Suatu hari aku ditempatkan dituanku disebuah taman, sedangkan ia meninggalkanku karena suatu hal untuk sementara. Aku secara tak sengaja bertemu dengan saudaraku yang jelek rupa, tak terawat dan baunya yang busuk "Hai saudaraku, kamu ini jorok sekali, apa kamu tidak dirawat tuanmu?". Saudaraku tak menjawab, tapi menangis. Aku segera mendekatinya dengan bantuan tenaga angin, membuatnya tenang, kemudian mengajaknya bicara "Tenanglah, bicaralah dengan tenang, siapa namamu, dari mana asalmu, siapa tuanmu?". Akhinya dia mengangkat wajahnya dan berkata "Aku Tole', dari negeri Jeruji, tuanku tak kukenal namanya, tapi sepengetahuanku, banyak orang memanggilnya dengan nama Black". Kemudian aku perkenalkan diriku "Aku Guna, dari negeri Derma, tuanku Pak Soleh, ups lupa.. belum dipanggil pak, masih mas, pengurus masjid di negeri kecil itu".

Mengalirlah cerita dari Tole' yang menyedihkan itu, membuat aku turut kesal, gemas dan marah dengan apa yang tuannya lakukan terhadapnya. Sungguh biadab tuannya itu. Tole' adalah salah satu saudaraku yang kurang beruntung karena di beli oleh seorang tuan manusia jahat. Panjang tubuhnya semula mencapai 5 meter, namun sejak pertama dibeli, tuannya telah memotong tubunya menjadi 5 bagian. Untunglah yang kutemukan saat ini bagian kepalanya.

"Sejak pertama kali dibeli tuan, tubuhku langsung digunakan untuk mengikat sesuatu. Daun kering yang membuat tubuhku juga terasa pusing. Setelahnya, aku berpindah tuan. Tuan yang baru ku jumpai lebih jelek, kulitnya hitam, ternyata dia orang asing yang singgah di negeri tuanku yang dulu. Perangainya juga lebih kasar. Tubuhku disundut dengan sebatang bara rokok, sehingga terputuslah lagi menjadi lebih pendek. Setelah itu, dengan cepatnya aku disingkirkan, dibuang ke tempat sembarangan yang sungguh bau dan kelihatan tak terawat. Entah berapa orang yang menginjang tubuhku yang telah terpisah-pisah. Aku menangis beberapa hari karena ditinggal tuanku yang baru, yang tak kukenal itu. Seminggu dalam keadaan yang tak menentu dan tak bertuan, angin membantuku keluar dari gedung gelap itu hingga ke sebuah pasar. Kupandang satu persatu wajah tuan manusia yang ada di pasar itu. Tak ada satupun wajah mereka yang bercahaya. Tak ada satu pun diantara mereka yang kuinginkan untuk menjadi tuanku. Tak lama kemudian, aku dipungut seorang pemuda tak berbaju. Aku dimasukkan ke dalam sakunya. Aku tak tahu, untuk apa aku nantinya. Pengap rasanya....

Ternyata (menangis) aku digunakan untuk mengikat bayi yang belum semestinya dilahirkan. Masih merah sekali tubuhnya, darahnya pun masih menetes walaupun cuma sedikit. Beginikah dunia manusia, yang lebih kejam dari dunia jahiliyah dulu? yang hanya mengubur anak bayi perempuan?. Manusia kini, berbuat seenaknya tanpa tanggung jawab. Tuan manusia laki-laki atau perempuan sama saja. Semua berdosa. Kemudian tubuhku diikatkan dengan kantong plastik yang juga menangis karena dia digunakan untuk mengangkut bangkai bayi yang belum jadi. Aku dan kantong plastik hanya bisa menangis. Kami makhluk mati, tak bisa berbuat apa-apa sebagaimana tuan kami melakukannya. Andaikan aku bisa bergerak sendiri, maka aku akan meloncat, berlari sejauh-jauhnya dari tuan-tuan manusia yang jahat dan mendekati masjid-masjid sepertimu Gun!"

Aku hanya bisa meneteskan air mata, lantas bertanya "Lalu, sekarang siapa tuanmu?". Dia langsung menjawab "Kini aku tak bertuan... siapakah yang sudi memungutku karena tubuhku yang bau ini. Kecuali tuan-tuan jahat yang serupa dengan tuan-tuan yang aku temui dulu". Seketika aku berharap kepada Penciptaku dan Pencipta seluruh Alam "Ya Allah, bantulah saudaraku ini, pertemukanlah dia dengan tuan-tuan manusia baik, agak dapat memberikan manfaat yang baik pula.."

Tak lama kemudian, tuanku datang setelah memberikan ceramah tafakur alam. Senang rasanya. Tapi sedih juga karena harus meninggalkan saudaraku Tole'. Tuanku segera mengangkatku yang dijadikan satu dengan bawaannya. Langkahnya berhenti. Dipandangnya Tole'. Tuanku memungutnya. Tole' bersyukur karena dipungut oleh tuanku yang soleh itu. Aku diletakkan kembali. "Lho, koq aku ditinggal?" pikirku. Rupanya tuanku sedang memandikan Tole. Kini ia tampak bersih dari sebelumnya. Akhirnya, aku bisa pulang bersama saudaraku Tole'.

Epilog : Kalau kami seperti tuan-tuan manusia, tentu kami akan memilih untuk siapa kami dibeli dan dipungut. Kami akan memilih untuk dibeli, dipungut oleh orang-orang yang merawat kami. Merapihkan keadaan kami jika kami sedang berserakan. Menggunakannya hanya untuk kebaikan. Dan tidak menyia-nyiakan kami selagi kami masih berguna.

2 Ada Komentar?

At الخميس, صفر ١١, ١٤٢٨ ٦:٤٩:٠٠ م, Anonymous غير معرف Bilang...

What a great site »

 
At السبت, صفر ٢٧, ١٤٢٨ ٧:٥٧:٠٠ م, Anonymous غير معرف Bilang...

Wonderful and informative web site. I used information from that site its great. »

 

إرسال تعليق

<< Home