السبت، جمادى الأولى 25، 1426

Malam Minggu di Parangtritis

Banyak orang bicara tentang malam minggu. Ada yang bilang malam itu istimewa, tapi banyak juga yang bilang itu malam yang menjemukan. Waktu pada malam minggu tentu tak beda dengan waktu pada malam lain. Yang membedakan mungkin terletak pada aktivitas.
Pada malam minggu aktivitas bisa dilakukan dengan lebih santai. Tidak ada tugas kantor atau kampus juga sekolah yang dikerjakan pada malam itu. Yang jelas, malam itu, malam untuk mencari hiburan, menyehatkan mata dan melepas lelah setelah sepekan beraktivitas.
Beda lagi dengan masyarakat Parangtritis, terutama pedagang, pengusaha rumah makan dan penginapan. Malam itu adalah malam paling strategis untuk menumpuk penghasilan. Betapa tidak, sabtu sore seluruh pedagang berbagai jenis barang mulai memenuhi pantai Parangtritis. Sudah menjadi kebiasaan setelah badai tropis dinyatakan tidak melewati jogja.
Pada malam harinya, sekitar pukul 9 hingga tengah malam, rentetan pengendara motor mulai berdatangan. Mereka adalah sepasang muda-mudi yang ingin "refreshing". Jumlah mereka banyak, lebih dari 200 motor pada malam itu, belum termasuk yang menggunakan mobil. Tampak jelas niat-niat mereka untuk berhura-hura secara berkelompok, bisa dalam bentuk beach party, mancing, dll (termasuk zina).
Larutnya malam tak mengurungkan niat orang yang ingin ikut nimbrung dalam kemaksiatan yang sarananya telah disediakan penduduk setempat. Penikmat pantai yang berpasang-pasangan itu ditawari tikar dengan harga sewa 20.000 selama semalam suntuk. Jika penyewa bingung memposisikan diri untuk menggelar tikar tersebut, sang pedanganglah yang menunjukkan tempat yang "aman", tanpa gangguan orang lain.
Bagi pengunjung yang agak elite, mereka tentu lebih memilih "istirahat" di hotel/losmen yang tersedia. Tarif murah diberlakukan di semua penginapan. 50.000 hingga 125.000. Bukan masalah bagi pengelola hotel/losmen tentang penyewa tempatnya itu, suami-istrikah? atau bukan. Yang penting bagi mereka, laku dan bisa dapat keuntungan. Akibatnya, "zina murah" tersebar ke seluruh mahasiwa Jogja yang selalu tak memiliki tempat, mungkin karena kostnya terlalu disiplin.
Masyarakat sekitar yang resah dan tidak setuju dengan praktek penginapan dan sewa tikar itu sebetulnya sudah mengambil tindakan, namun kalah kekuatan. Pihak penginapan rupanya memberikan "pajak" kepada kelurahan agar tidak ada tindakan tegas bagi mereka. Kebosanan pun muncul pada diri masyarakat yang menginginkan penghapusan kebiasaan buruk tersebut.
Kami (untuk saat ini) hanya bisa melakukan pendekatan personal kepada beberapa instansi pemerintah yang terkait dari seluruh kabupaten yang ada di Yogyakarta. Usaha dan do'a adalah jalan terbaik dibanding diam seribu bahasa. Walaupun diam adalah emas, tapi jika kita diam terhadap kemaksiatan, tentunya (secara tidak langsung) kita setuju dengan kemaksiatan itu.