الجمعة، جمادى الآخرة ٠٢، ١٤٢٦

Tidak Dusta, Kerja Pun Diterima

Ada seseorang dari kalangan bangsa Eropa yang baru masuk Islam, lalu baik keislamannya, jujur perilakunya dan punya hesrat menggebu untuk menampakkan jati diri keislamannya. Lelaki itu juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi dihadapan orang-orang kafir, tanpa malu atau ragu, hatta dalam kondisi yang kadang tidak relevan atau genting, dia tetap punya keinginan yang kuat untuk itu.

Sekali waktu, ada pengumuman dari salah satu instansi pemerintah kafir tentang adanya peluang kerja. lalu, lelaki itupun mengajukan lamaran kerja, dan mesti baginya untuk menjalani psikotes dan tes-tes lainnya yang didasarkan pada tugas dari pekerjaan itu. Ketika interview, tim interviewer mengajukan sederet pertanyaan. Sebagian dari pertanyaan itu adalah "Apakah anda suka minum minuman keras?", dengan tegas lelaki itu menjawab "Aku tidak minum minuman keras karena aku muslim, dan seorang muslim dilarang untuk meminum minuman keras, kecuali untuk obat jika mendesak". Kembali tim mengajukan pertanyaan "Apakah anda punya teman kencan atau pacar?" dijawab dengan tegas kembali "Tidak, karena Agama Islam mengharamkanku untuk melakukan hal itu, agama kami membatasi pergaulan antar jenis, kecuali dengan istri sendiri yang dinikahi sesuai dengan tuntunan syariat Allah azza wa jalla".

Setelah menjalani tes, lelaki itu keluar dan sepertinya ia putus asa untuk dapat berhasil dalam seleksi itu. Namun hasil terakhir menegaskan bahwa dari semua peserta tes yang jumlahnya ratusan, yang diterima hanya dia seorang. Lalu lelaki itu pergi menemui tim penanggungjawab dan berkata "Saya menduga, bahwa bapak akan menjegal saya untuk menduduki tugas dalan instansi ini, sebagai akibat dari keadaan saya yang berselisih dengan bapak mengenai agama saya dan bapak, di mana saya beragama Islam. Dengan diterimanya saya di kalangan saudara-saudara bapak yang nasrani, bagi saya surprise. Apa rahasia di balik ini semua?". Pertanyaan lelaki itu dijawab langsung oleh penanggungjawab tim "Kandidat pegawai ini mempra-syaratkan seseorang yang berkepribadian, cekatan dalam segala hal dan punya konsentrasi tinggi. Sedang orang yang sering minum minuman keras tak mungkin memiliki kapabilitas seperti itu. Kami memang sudah lama menunggu orang yang tidak mengkonsumsi minuman keras, dan karena melihat kelengkapan syarat-syarat itu ada pada Anda, maka pilihan itu pun jatuh pada Anda meskipun anda Muslim"

Kemudian sang lelaki itu pun keluar sambil melantunkan kalimat hamdallah terhadap nikmat dan karunia agung yang dilimpahkan kepadanya, seraya mengulang-ulang ayat ini :
"Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar" (QS. at-Thalaq (65) : 2)

Referensi : "Surga di Dunia" oleh Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, 2000