الجمعة، رجب 21، 1426

Sepucuk Surat untuk Perawat Bangsa

Seringkali ada pertanyaan (tepatnya : gugatan) atas perlakuan kita terhadap bangsa yang ditempatinya ini, Indonesia. Terlebih ketika menyambut penambahan umur. Lucu dan kadang tidak ada relevansinya antara cara mengisi tanggal bersejarah dengan nilai yang terkandung didalamnya.

Aku tak habis fikir. Apa menyambut kemerdekaan harus dengan megah menggelar berbagai lomba yang unik dan aneh. Makan krupuk dalam waktu cepat, berlompat-lompat dengan menggunakan karung, memanjat batang pinang yang telah dilumuri pelicin untuk meraih hadiah seadanya, bahkan lomba yang tingkat keanehannya tidak kalah dari badut - itu semua adalah pemandangan biasa kita dan saudara kita bangsa Indonesia dalam menyambut kemerdekaan.

Lalu apa hubungannya semua itu?

Kita tidak dapat menjawab pertanyaan mudah itu. Atau sekalipun kita menjawab dengan kalimat ringan "setahun sekali lah...", atau "jarang kan ada moment seperti ini..". Tidak ada yang salah -sebenarnya- dengan jawaban itu. Karena kita memang sekedar mengikuti apa yang telah orangtua dan zaman sebelum kita lakukan. Ya, lomba dalam rangka menyambut kemerdekaan itu sekedar adat yang turun dan turun hingga menurun kepada kita yang terdampar kini dalam bangsa yang kebal terhadap krisis.

Pasti ada cara yang lebih efektif dan efisien dan tak perlu menggali dana yang wah-mewah. Apa ya?

Intinya cuma satu, Selamatkan bangsa ini!!. Lalu kemudian kita bertanya kepada diri sendiri "Lho, kita kan bukan pahlawan?". Justru karena kita bukan pahlawan itulah, kita hanya disisakan untuk merawat hasil perjuangkan pahlawan. Ya, kita hanya generasi Perawat Bangsa.

Perawat Bangsa. Sungguh istimewa gelar yang kita sandang. Kita kenal profesi perawat di Rumah Sakit yang memerlukan ketelitian, keuletan, kejujuran, dan kesiap-siagaan demi kesehatan pasien sekaligus mempertahankan nama baik profesi juga rumah sakit tempat ia bekerja. Tidak ada bedanya bagi kita para Perawat Bangsa, yang harus teliti melihat kondisi bangsa, ulet mempertahankan kesehatan bangsa, jujur ketika bangsa sedang sakit serta siap-siaga ketika kita berhasil atau gagal dalam merawat.

Nah. "Mumpung" negara kita masih dalam keadaan sakit, maka profesi keperawatan kita masih sangat dibutuhkan. Sumber sakitnya negara kita cuma satu, gara-gara digigit tikus. Semua dokter memang sudah dikumpulkan, bahkan membentuk berbagai ikatan kerja. Tapi sama saja. Malah para dokter juga ikut-ikutan digigit tikus. Ihh... ngeri banget gitu lho!!

Lalu, kalau dokternya saja ikut digigit tikus, siapa lagi yang disalahkan kalau bukan Perawat? Nah, kena lagi kan kita.

Trus, langkah konkretnya apa dong buat kita para Perawat? Banyak yang berpendapat, kalau penyakit digigit tikus ini termasuk budaya yang sudah dibiasakan dan bukan suatu aib. Akhirnya dari hulu ke hilir, korban gigitan tikus makin banyak dan tidak dapat dilacak. Walaupun bisa, itupun dikeluarkan sedemikian rupa, sehingga tampak seperti orang yang tidak terkena gigitan tikus.

Ada syair menarik nih, mungkin cocok buat menggugah semangat kita para Perawat.

Indonesia saksikanlah
Keadilan melahirkan kasih sayang
Kasih sayang melahirkan persatuan
Persatuan melahirkan kekuatan
Kekuatan melahirkan kemenangan
Kemenangan bagi kita semua

Yang paling ujung adalah keadilan. Perawat harus memiliki jiwa adil. Menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya. Perawat yang adil tidak akan menyembunyikan orang yang digigit tikus sehingga tidak dimasukkan ke ruangan khusus bernama sel. Rasa adil hanya dimiliki oleh orang yang tahu nilai yang benar dan salah. Dan orang yang tahu tentang kebenaran dan kesalahan adalah yang mau belajar banyak dari apa yang ada disekitar kita atau tepatnya mengambil pelajaran (atau hikmah) dari segala sesuatu.

Jika kita sudah mau mengambil pelajaran dari sekitar kita, tentu kita akan hidup sebagai perawat dengan hati-hati. Biarkan korban gigitan tikus yang dulu menikmati kebahagiaannya, kita sudah sedemikian rupa mengobatinya, tapi tetap saja tidak mampu. Tinggal hukum Allah yang akan menghadangnya kelak. Tinggal sekarang bagaimana menyelamatkan generasi perawat bangsa yang hidup dimasa yang akan datang, agar tak tertular penyakit itu. Agar mereka kita berikan cermin bening yang selalu mereka butuhkan di banyak waktu.

Dirgahayu bangsaku yang kian menua
Semoga ketuaanmu tak melapukkan semangat pemuda
Yang selalu diusung sebagai Perawat Bangsa
Dan akan membawamu kembali ke dalam senyum dan canda
Bukan lagi kedalam duka yang kian mendera

6 Ada Komentar?

At الجمعة, رجب 21, 1426 1:07:00 م, Blogger Blogger Family Bilang...

Peserta, entry lomba di blog ini, panitia posting juga di blog khusus http://lomba-blogfam.blogspot.com untuk keperluan kemudahan member Blogfam dalam memilih ‘pemenang favorit lomba entry 17-an Blogfam’ yang akan dilaksanakan pada 26-29 Agustus 2005 di Galery Kreasi Blogfam. Mengingat jumlah peserta lomba entry mencapai 61 peserta. Pesan ini sebagai pemberitahuan. Terima kasih atas partisipasi dan kesediaannya. Selamat Berlomba ;)

 
At الجمعة, رجب 21, 1426 7:08:00 م, Blogger jellyjuice Bilang...

sukses ya lomba ngentry-nya..

met wiken

 
At الأحد, رجب 23, 1426 4:32:00 م, Anonymous sa Bilang...

dirgahayu. :)

makasih udah ikutan lomba 17-an blogfam ya.

 
At الاثنين, صفر 15, 1428 2:04:00 م, Anonymous غير معرف Bilang...

Wonderful and informative web site. I used information from that site its great. » »

 
At الخميس, صفر 25, 1428 12:16:00 م, Anonymous غير معرف Bilang...

Keep up the good work »

 
At الخميس, ربيع الآخر 09, 1428 8:42:00 ص, Anonymous غير معرف Bilang...

This is very interesting site... »

 

إرسال تعليق

<< Home