الجمعة، رجب 07، 1426

Surat Terbuka untuk Para Pemburu Hasil...

Oktober 2004 saya tiba di sebuah desa wisata di sebuah Propinsi di Pulau Jawa. Bersama istri, saya merintis TPA dan kelompok-kelompok pengajian remaja. Tidak lupa pula melibatkan penduduk setempat demi kemajuan kecerdasan dan akhlak anak. Kemajuan yang didapat tidak menggembirakan secara kualitas. Memang sih banyak anak yang respon untuk ikut TPA dan banyak orangtua yang sering “memaksa” anaknya agar ikut TPA. Namun –sekali lagi- desa wisata itu memberikan arti tersendiri buat mereka –anak dan orangtua- tentang pendidikan agama.

Januari 2005, saya berinisiatif mengundang orangtua santri TPA untuk mengarahkan dan menjelaskan kembali tujuan didirikan TPA. Ajakan untuk sholat berjama’ah dan memakmurkan masjid tidak lupa juga saya singgung. Sekali lagi respon positif dari mereka “Bagus deh kalo ada yang serius momong anak kami…” kata mereka kebanyakan.

Momong? Jadi mereka menitipkan anaknya supaya kami momong? Saya dan istri harus berfikir keras untuk memperbaiki persepsi mereka untuk mengikutsertakan anak-anaknya dalam TPA. Melibatkan remaja setempat yang ikut mulang TPA untuk berfikir hal itu sangat sulit, mereka selalu manut dengan keputusan kami. Salah satu alasannya mungkin karena saya lebih tua dari mereka dan berpengalaman. “Dari pada ga difikir-fikir, ya sudah, kita saja yang mikir!” ajakku kepada istri.

Hampir satu tahun kami disini. Perkembangan da’wah kami tidak begitu cepat. Namun salah seorang ustadz yang berkunjung ke tempat kami memberi semangat yang luar biasa “Lihatlah Nuh, seorang Nabi yang Mulia, mengajak umatnya kepada Allah perratus tahun, tapi yang ikut tidak seberapa, bahkan istrinya-pun tidak ikut perkataannya. Juga ada Ibrahim yang dengan tegar dan tegas menentang berhala dalam waktu yang lama juga, tapi ternyata yang ikut cuma istrinya. Kurang mulia apa mereka?”

Benar juga kata beliau. Kenapa kita selalu tidak sabar untuk mendapatkan hasil dari perjuangan kita. Padahal, lebih mulia mana diri kita dengan nabi Nuh, Ibrahim dan para Anbiya serta Wali-wali Allah yang da’wahnya lebih lama. Lebih suci mana hati kita dibanding mereka yang selalu minta pertolongan Allah dan yakin akan ketentuan-Nya. Dari teguran halus itu, saya dan istri merasa telah salah langkah karena ingin terburu-buru memetik hasil.

Jadi, apabila anda sudah merasa melebihi kadar ketaqwaan para Anbiya dan wali-wali Allah, barulah anda boleh memburu hasil da’wah anda dengan cepat. Bisakah? Sedangkan terburu-buru adalah bagian dari sifat syaithan. Na’udzubillah.

Terimakasih tak terhingga, buat istriku yang setia.

2 Ada Komentar?

At السبت, صفر 27, 1428 2:49:00 م, Anonymous غير معرف Bilang...

Wonderful and informative web site. I used information from that site its great. film editing classes

 
At الثلاثاء, ربيع الآخر 07, 1428 9:07:00 م, Anonymous غير معرف Bilang...

Keep up the good work » »

 

إرسال تعليق

<< Home