الثلاثاء، شعبان ١٦، ١٤٢٦

Bukan Hanya Salah Fir'aun

Ahmad Sanusi (Brench Marking buku “Kumpulan Ibroh Majalah Islam

Fir’aun. Setiap zaman mengenang nama besar itu. Bukan nama indah, tapi amat populer. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 74 kali. Semuanya lekat dengan kebengisan, kekejaman, tirani, kecongkakan dan sederet label jahat lainnya. Kalaupun dianggap “berjasa”, jasanya adalah membiarkan Musa alaihissalam hidup dan mempertemukan Rasul Allah itu dengan para tukang sihir kerajaan. Pertemuan yang mengantarkan para tukang sihir itu pada keimanan yang benar.

Ahmad Sanusi (Brench Marking buku “Kumpulan Ibroh Majalah Islam


Tanpa kenal ampun Fir’aun menebar teror. Akibatnya, ratusan bayi tewas mengenaskan. Ribuan rakyat terampas kemerdekaannya. Namun semua itu tak seberapa bila dibandingkan dengan puncak kezalimannya, ketika ia mengklaim bahwa hanya dirinya yang berhak mendapat loyalitas, kepatuhan dan ketaatan. Tidak boleh ada sesuatu terjadi tanpa perkenanan dan izinnya. Bahkan hak berakidah yang merupakan hak asasi manusia lenyap atas nama kepatuhan dan loyalitas pada sang penguasa. “Adakah kalan beriman kepada Musa sebelum aku izinkan kalian untuk itu?” bentak Fir’aun pada para tukang sihir saat mengetahui keimanan mereka. Sikap itu dipertegas dengan pernyataan “Aku lah tuhan kalian yang paling tinggi” (QS An-Nazi’at : 24)

Akar dari segala kejahatan Fir’aun adalah sikap melampaui batas (thughyan). “Pergilah kepada Fir’aun, sesunggunya ia melampaui batas” (QS an-Nazi’at : 17). Sikap melampaui batas adalah akibat ia megganggap dirinya serba cukup : cukup pujian, cukup kekuatan, cukup kepatuhan dari bawahan, cukup loyalitas dan seterusnya. “Ingatlah sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena melihat dirinya berkecukupan” (QS al-‘Alaq : 6-7)

Mengapa Fir’aun sampai menganggap dirinya serba cukup, paling hebat dan paling kuat? Bagaimana ia berani bertindak melampaui batas-batas nurani dan kemanusiaan? Di satu sisi menjadi binatang, di sisi lain menjadi “tuhan”? bukankah dul pernah ada Raja Sulaiman, yang walaupun kekuasaannya amat besar tapi tak membuatnya arogan. Begitu juga dengan Ratu Balqis. Kerajaan yang besar tak membuatnya menjadi tuhan. Mengapa?

Al-Qur’an telah memberi jawaban atas pertanyaan itu. Ternyata orang-orang disekitarnya yang membuat Fir’aun merasa serba cukup. Paling hebat sekaligus penguasa nan tak tertandingi. Memang Fir’aun bukanlah orang shalih. Tapi segala kejahatan Fir’aun mungkin takkan jadi besar jika ada orang yang berani mengatakan “tidak”. “Maka ia merendahkan kaumnya lalu mereka patuh padanya” (QS az-Zukhruf : 54)

Kekejian Fir’aun adalah berperilaku diktator dan berobsesi menjadi satu-satunya yang harus dipatuhi. Sedangkan kedegilan para pendukungnya adalah tak berani menolak segala titah Fir’aun betapa pun busuknya. Kejahatan Fir’aun adalah serakahdan kejahatan orang-orang disekitarnya adalah meluluskan segala kehendak Fir’aun. Kecongkakan Fir’aun adalah memperbukak rakyat jelata. Namun kebodohan rakyat adalah membiarkan dirinya dalam keadaan layak dijajah dan diperbudak. Selain menista Fir’aun, Allah SWT juga mengecam para pendukungnya sebagai orang-orang fasik. “Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik” (QS az-Zukhruf : 54)

Para tukang sihir turut memerangi Nabi Musa alaihissalam karena ia dijanjikan kedudukan dan posisi yang menggiurkan. “Dan para tukang sihir itu datang kepada Fir’aun (lalu) berkata ‘(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapatkan upah jika kami yang menang?’ Fir’aun menjawab ‘Ya dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang yang didekatkan (kepadaku)’.”(QS al-A’raf : 113-114)

Dalam rangka itu pula, para pengawal Fir’aun sering memanas-manasi Fir’aun “Bekatalah para pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) ‘Apakah engkau membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini dan meninggalkan engkau dengan tuhanmu..” (QS al-A’raf : 127). Karena merasa mendapat dukungan itulah, Fir’aun mengatakan “Akan kita bunuh anak laki-laki meraka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka” (QS al-A’raf : 127)

Orang-orang semacam itu dengan segala kepentingannya berhasil menciptakan suasana kondusif bagi Fir’aun untuk merasa serba cukup. Buktinya, ketika Fir’aun merasa tak punya lagi kekuatan, ketika tak ada lagi orang yang memujinya, ketika tak ada lagi orang yang mau berkorban untuknya, dan ketika nyawanya diujung tenggorokan, ia mengaku bahwa dirinya bukanlah tuhan. Ia pun beriman kepada Allah “Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka), hingga ketika Fir’aun hampir tenggelam, berkatalah ia ‘Saya percaya bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercaya (Musa) dan kaumnya..”

Kualitas pemimpin sebuah negara tidak bisa dipisah dari kualitas rakyatnya. Rakyat yang penjudi, perampok, pelacur dan senang pada segala bentuk penyimpangan, tidak akan mau dipimpin oleh orang yang bersih dan jujur. “Seperti apa (kualitas) kalian, maka (oleh orang yang berkualitas) seperti itulah kamu akan dipimpin” sabda Rasulullah saw.

Setiap orang punya potensi untuk menjadi Fir’aun. Apalagi ketika orang tersebut beroleh jabatan, kedudukan dan kekuasaan. Sebab setiap manusia punya potensi untuk berlaku melampaui batas. “Ingatlah, sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas”. Pada gilirannya kemudian, ada orang yang mental pembangkangannya tumbuh dan berkembang, dan ada pula yang ternetralisir. Puian dan kultus adalah modal yang lebih dari cukup bagi seseorang untuk merasa hebat.

Karenanya, mempersiapkan pemimpin masa depan tidak dapat dilepaskan dari proyek mempersiapkan rakyat masa depan. Dari sisi ini, jelas tugas para pengemban da’wah baik pribadi maupun kelompok, tidaklah ringan. Karenanya, alangkah bijak dari segala potensi dan energi yang dimiliki para aktifis da’wah hari ini diarahkan untuk mencetak generasi baru dengan mental yang baru pula. Dan bukan untuk bertikai saling rebut lahan dan pengaruh.

Rakyat masa depan haruslah menusia yang memiliki jiwa merdeka, bermental anti penjajahan dan memiliki nurani yang tangguh untuk mengekspresikan kebenaran. “Syetan bisu” adalah julukan yang diberikan Rasulullah saw kepada orang yang tidak berani mengatakan “Hai si zalim!” pada orang yang berbuat zalim. Jika ini gagal, maka Fir’aun-Fir’aun takkan berhenti bermunculan.


------
Diambil dari "Bukan Hanya Salah Fir'aun" oleh Yasir Tim Sabili, dalam buku "Kumpulan Ibroh Majalah Sabili" halaman 42-47

0 Ada Komentar?

إرسال تعليق

<< Home