الأربعاء، شعبان ١٧، ١٤٢٦

Katakan "Aku Merindukanmu" Pada Ramadhan

Tlah datang menjelang...
Meluruhkan kerinduan...
Hooo... Ramadhan...
Sambut di hadapan...

Riuh rendah syair nasyid itu begitu menambah harapku akan kedatangannya. Bukan hanya aku yang mengharapkan kedatangannya. Paling tidak, sebanyak 1,5 Milyar penduduk dunia menemani pengharapanku atasnya.

Katakan "Aku merindukanmu" padanya. Ia adalah bulan yang paling dimuliakan. Rasulullah pernah menghaturkan sebuah motivasi "Siapa yang senang akan kedatangan Ramadhan, maka haramlah baginya disentuh api neraka". Lepas dari siapa periwayat hadis itu, kita seharusnya harus ikut menjadi orang yang berhati riang ketika ia kan kembali datang.

Katakan "Aku merindukanmu" padanya. Bulan yang pastinya banyak mendapat tempat khusus di banyak orang. Di bulan itu, Islam "berkuasa". Ramadhan tahun lalu, 60-70% tayangan televisi bernuansa Islam. Masjid pada siang hingga malam hari tak pernah luang. Jama'ah sholat shubuh akan bertambah beberaap shaff. Jam kantor akan berkurang, supaya kita dapat maksimal dalam ibadah. Aktivitas ke-Islaman, dari TPA hingga pengajian orangtua akan lebih sering digelar, paling tidak, kita akan lebih sering mendapatkan supply ilmu Indahnya Islam. Ukhuwah Islamiyah juga lebih nampak, dengan ifthor jama'iy dan i'tikaf. Subhaanallah, siapa yang tidak mau dengan kondisi seperti ini. Kondisi yang begitu kondusif dan sejuk dihati kita.

Mengatakan "Aku merindukanmu" tidak semudah menggerakkan bibir. "Aku merindukanmu" memang ucapan ringan, namun tetap saja memerlukan konsekwensi. Bukan tidak mungkin, bulan yang kita dambakan itu akan penuh dengan a-ge-ha-te. Ancaman akan hadir. Gangguan akan menggulir. Halangan mulai dari pinggir. Dan Tantangan selalu mencibir.

Disinilah letak makna Ramadhan sebagai bulan perjuangan. Bukan sekedar mengetes ketahanan lapar-dahaga, tapi juga memenjarakan sepenuh hati hawa-nafsu dalam diri. Puasa berbeda dengan ibadan lain yang bisa dilihat secara fisik, seperti sholat dengan gerakannya, zakat dengan beras dan uangnya. Karena puasa adalah ibadah hati. Keikutsertaan hati dalam menjalankannya berpengaruh 100% atas kualitas puasa kita.

Konsekwensi dari ucapan "Aku merindukanmu" paling tidak, bisa kita lakukan dengan beberapa hal :
Pertama, kesiapan ruhani. Mantapkan diri kita untuk senang dengan kedatangannya. Paksakan diri kita untuk menjemput hidayah Allah, agar kita termasuk orang pilihan yang akan menuntaskan Puasa karena Iman. Memperbanyak ibadah sunnah dan berjama'ah adalah cara jitu untuk lebih menikmati proses penjemputan hidayah. Dengan ibadah sunnah, saldo tabungan amal kita akan bertambah. Sedang Ibadah berjama'ah akan menaikkan derajat ukhuwah kita selaku muslim.

Kedua, kesiapan ilmu. Tanpa ilmu, kita tak akan profesional dalam menjalankan segala sesuatu, termasuk puasa. Ilmu tentang puasa -paling tidak- akan membuang keraguan kita atas puasa kita. Banyak majlis ilmu yang kini membahas tentang ke-Ramadhan-an, biasa kita kenal dengan istilah Tarhib Ramadhan. Atau jika waktu kita kurang luang untuk mengikuti acara tersebut, kita bisa membaca buku yang ada kaitannya dengan puasa, yang kini juga telah mulai banyak beredar.

Ketiga, rencanakan yang terbaik untuk ramadhan. Targetkan yang terbaik untuknya. Kalau Ramadhan tahun lalu kita baru bisa khatam al-Qur'an 1x, maka Ramadhan kali ini lebih baik jika lebih dari yang kemarin, jadi 2x misalnya. Kalau Tarawih tahun lalu kita hanya bisa berinfaq 1000, maka usahakan lebih besar lagi, misal jadi 1500. Kalau tahun lalu kita tidak ikut i'tikaf, maka rencanakan ikut i'tikaf dengan mencari informasi disekitar tempat kita.

Ketiga cara itu tidak bisa dipalikasikan oleh orang yang sekedar bisa berkata "Aku merindukanmu", tapi juga yang punya niatan ikhlas bahwa "Aku akan membahagiakanmu". Jika sudah bisa berkata demikian, pastinya ia akan berkata kembali "Aku akan berkorban untukmu".

Kita pernah didatangi tamu mulia? misalnya Pejabat atau Calon Mertua. Sebagai tamu mulia, kita akan dengan rela berkorban untuk menyuguhkan yang terbaik demi kebahagiaannya. Segala hidangan lezat akan disajikan. Rumah kita akan dibersihkan dan ditata sedemikian rupa supaya sang tamu betah untuk berlama-lama. Itu untuk menumbuhkan kesan positif bagi tamu mulia yang singgah dirumah kita.

Maka anggaplah Ramadhan sebagai tamu mulia itu. Suguhkan kedatangannya dengan segenap keteguhan hati. Dzikir, tilawah, ibadah berjama'ah dan sunnah kita lakukan sebagai hidangan bergizi yang akan membuat ia puas dengan penyambutan kita. Dan pada malam yang ditentukan, kita akan terpilih menjadi hamba yang terbahagia didunia. Karena pada malam itu, Ia menghadiahkan satu malam khusus yang setara dengan seribu bulan.

Duhai Ramadhan, datanglah segera, aku merindukanmu...
Allahumma baariklana fii rajaba wa sya'baan. Wa ballighna romadhaan.

3 Ada Komentar?

At الأربعاء, شعبان ١٧, ١٤٢٦ ٢:١٣:٠٠ م, Blogger Dini Bilang...

Ass wr wb bang...gimana nih kabarnya?
Subhanallah, jadi kangen pulang euy, sampe ke iklan indomie menjelang Ramadhan aja kekangenan :)-
Sekalian mau tanya, kalau kita kan biasanya saling bermaafan sebelum Ramadhan ...kalo dalam bahasa Arab biasanya apa yang kita ucapkan ke sesama Muslim ya bang?
Trimakasih banyak ilmunya ya bang...salam bwt istri :)

 
At الثلاثاء, شعبان ٢٣, ١٤٢٦ ٣:٢٩:٠٠ ص, Blogger terri87alfredo Bilang...

Just passing by your blog and though you'd like this website.

 
At الاثنين, محرم ١٧, ١٤٢٨ ١١:٣٢:٠٠ ص, Anonymous غير معرف Bilang...

best regards, nice info http://www.farmers-insurance-5.info Cadillac seville floor mats Link www.internet keno online stadium casino.com 307 lx peugeot Fat ass in shorts www peugeot nl 950 blackberry rim Robert axtman pontiac http://www.buying-paintball-barrels.info/Roller-peugeot.html modafinil cephalon Big boobs jiggle a thon pc video surveillance Home security hawaii Peugeot wallpapers troll saab Grapefruit and zocor interactions

 

إرسال تعليق

<< Home