الأربعاء، شعبان 24، 1426

Sapalah Da'wah, Ketika Ia Menyapamu

Tergopoh aku. Dengan nafas yang tak beraturan, jari telunjukku mengetuk kaca jendela yang berwarna gelap. Aku sangat yakin, inilah tempat yang dimaksud, tempat untuk membahas program organisasi da'wah sekolah kami.

Aku berdiri di depan rumah yang didepannya ada beberapa sandal dan sepeda motor berjajar. Tapi ketukan dan ucapan salam ketiga-ku tidak ada respon. "Mungkin suaraku kurang keras dan mereka tidak dengar" pikirku. Belum sempat jari telunjukku mengetuk untuk ke empat kalinya, seorang Ibu yang melintas didepan rumah itu menghampiri aku. Aku mendekatinya. Ibu itu mengaku sebagai tetangga yang curiga dengan aktivitas rumah yang kudatangi. Konon, menurutnya rumah itu memang sering dijadikan tempat berkumpulnya pemuda berjanggut dan pemudi berjilbab yang tidak pernah keluar rumah jika mengadakan kegiatan. Ibu itu menambahkan "jangan-jangan, rumah ini aliran sesat dek!".

Aku yang saat itu masih sangat polos dan tak tahu sama sekali dengan aliran dalam Islam langsung mempercayai ucapan ibu-ibu yang menjinjing tas kecil itu. Segera ku keluar dengan diam-diam. Kembali kerumah tanpa membawa ilmu yang tadinya kuharap-harap. Padahal aku datang kerumah itu dengan niat yang -sepertinya- ikhlas, sehingga aku rela untuk berjalan 7 kilometer agar dapat menghadirinya. Tapi, sia-sialah longmarch yang kujalani, karena kini yang kubawa adalah sederet pertanyaan, apakah mereka aliran sesat, kenapa bisa?

Keesokan harinya, aku sepeti mengambil jarak dengan aktivis Islam disekolah kami. Sholat dzuhur yang biasanya kulakukan dimasjid, kini kulakukan dirumah. Sholat dhuha juga hanya sekedar keinginan, karena ketika aku sholat dhuha, pastinya akan diajak ngobrol dengan mereka, aktivis yang dikatai beraliran sesat itu.

Menjelang ujian sekolah. Beberapa siswa yang dulu aktif dalam organisasi itu menemuiku, mengajakku untuk belajar. Aku tetap menolak, dengan alasan, aku sudah ikut bimbingan belajar. Mereka pulang dengan perasaan yang -entah- marah atau tidak.

Ujian digelar. Wajah mereka begitu menyejukkan. Tidak ada ketegangan atau kelesuan. Padahal, menurut beberapa teman, mereka semalam tidur di masjid sekolah yang sudah tidak diragukan lagi nyamuknya. Selama ujian-pun mereka begitu tertib, leher dan kepalanya tak pernah berubah arah kekanan atau kiri, walaupun ada kelucuan dan suara disana sini.

Pengumuman ujian dipasang. Siswa IPA maupun IPS terlihat tegang, kecuali para aktivis masjid, yang terlihat biasa saja dan tampak tidak takut dengan keputusan terburuk. Guru kami mulai menyebutkan beberapa siswa yang tidak lulus. Ketika disebut namanya, beberapa siswa yang dinyatakan tidak lulus jatuh pingsan.

"NEM tertinggi dan peraih PMDK tahun ini dipegang oleh 3 siswa dari IPA, 2 siswi IPS". Seluruh siswa memberikan tepuk tangan keras, sambil terheran, ketika nama-nama sang Juara EBTANAS dan PMDK disebut. Jelas saja semua heran, karena selama ini kami -termasuk aku- menutup diri dari mereka. Kami mengira, mereka yang dicap sebagai aktivis masjid yang beraliran sesat tidak punya obsesi sedikitpun untuk meraih gelar juara dibidang ilmu umum. Ternyata itu semua salah. Dan kesesatan mereka tidak terbukti.

Karena kejadian itu. Aku kini bergabung dalam kereta da'wah. Begitu indahnya jika ini menjadi rutinitas kita. Walaupun da'wah tak pernah jelas stasiun pemberhentiannya, tapi semakin kesini, semakin banyaklah orang yang menaikinya. Yang naik kereta inipun bukan hanya orang yang paham agama, tapi berasal dari berbagai disiplin ilmu, eksak, sosial, seni, budaya, dan banyak lagi.

Ya. Inilah da'wah yang sebenarnya. Yakni menyampaikan apa yang kita miliki dengan penyeimbang norma ke-Islaman. Dan da'wah tidak melulu disampaikan diatas mimbar, tapi kini bisa juga dilakukan diatas bus umum, jalan raya, bank, kantor pemerintahan, pengadilan, dan tempat lain yang tak kita sangka.

Da'wah Prestasi jelas-jelas merupakan da'wah efektif yang kini banyak dicari. Untuknya diperlukan konsentrasi, kerja keras, menghargai waktu dan profesional. Jika dizaman ini kita tak mampu menyapa ajakan da'wah untuk berprestasi, maka akan tertinggallah kita dalam kereta yang panjang ini. Dan digerbong belakanglah tempat kita nantinya. Sungguh, gerbong belakang adalah gerbong yang tak aman bagi keselamatan kita.

Yogya, 28 September 2005
Peringatan mengetuk kaca hitam rumah, 10 tahun lalu

3 Ada Komentar?

At السبت, ذو القعدة 11, 1427 3:35:00 م, Anonymous Azkia Bilang...

Assalamu'alaikum
perihal dakwah prestasi hal ini memang harus diperjuangkan karena dengan adanya dakwah ini bisa memunculkan output yang tidak hanya kuat dalam hal ruhiyah dan dakwah tapi juga intelegensi dan saya selalu percaya sesibuk apapun kita dalam dunia dakwah Allah pasti akan memberi kemudahan, hal ini sudah saya rasakan pada beberapa kali,dan Alhamdulillah hal ini semakin membuat saya mantap melangkah di dunia dakwah, karena saya selalu percaya barangsiapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya,dan dalam dua tahun terakhir ini saya mencoba untuk menunjukkan pada pihak SMA saya dulu bahwa dengan ngaji dan berorganisai, prestasi juga tetep nomor satu jazakumullahu khairan katsir, telah menyediakan media ini untuk berbagi
wassalamu"alaikum wr wb

 
At الجمعة, محرم 28, 1428 3:09:00 م, Anonymous غير معرف Bilang...

Excellent, love it! »

 
At الخميس, ربيع الآخر 23, 1428 2:40:00 ص, Anonymous غير معرف Bilang...

Best regards from NY! Playboy blowjobs Mature pricelss pictures Double hentai Gay huge boy cocks indian maid erotic stories Mature busty milfs Top 100 models gay orgies anal movies asian hardcore Shaved pussy&aposs Black xxx fat girls Blonde little shaved pussies images http://www.gay-studs-6.info/2007/05/03/free-hiltonnbspparisnbspnbspvideo/ Masturbation and penis and skin conditions Lesbians hold hands Gay videos with the word blue in title Cum in her mouth Large globular breasts

 

إرسال تعليق

<< Home